Navigasi

Senin, November 23, 2009

MENGAPA ORANG HINDU BALI SEMBAHYANG DENGAN PANCA SEMBAH

Pada umumnya dalam persembahyangan bersama umat Hindu di Bali selalu dicanangkan Pangubaktian/Sembah. Pangubaktian/Sembah yang dilaksanakan pada umumnya juga dilakukan sebanyak lima (5) kali yang disebut dengan Panca Sembah yang kurang lebih artinya lima (5) kali melakukan sembah terhadap Ida Sanghyang Widhi Wasa maupun terhadap Dewa, Dewi, Bhatara dan Bethari yang berstana di suatu tempat suci dilakukannya persembahyangan. Rangkaian lima sembah itu merupakan satu kesatuan yang utuh yang dilakukan berurutan dan wajib dilakukan, baru persembahyangan itu dinyatakan selesai yang diakhiri dengan nunas Wasuhpada (Air Suci) dan Bija sebagai simbul berkah Hyang Widhi yang dibagikan oleh para Pemangku kepada seluruh peserta
persembahyangan.

Sebelum panca sembah dilaksanakan didahului dengan pengambilan sikap yaitu duduk dengan tenang yang disebut Asana, kemudian diikuti dengan pembersihan tangan yang disebut dengan Karasodhana, penyucian mulut yang disebut dengan Waktra Sodhaya dan Pranayama yaitu pengaturan nafas agar pikiran menjadi tenang dan mampu berkonsentrasi kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa. Baru kemudian mengikuti rangkaian Panca Sembah dengan urutan sebagai berikut :
1. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong
2. Muspa/Sembah dengan Bunga, kehadapan Sanghyang Ciwa Raditya sebagai upesaksi
3. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi
4. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Samudaya untuk mohon waranugraha
5. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong kembali untuk menghaturkan terima kasih atas Anugrah yang telah dilimpahkanNya.

Setelah persembahyangan yang diakhiri dengan nunas tirta dan bija, perasaan menjadi tenang apalagi ada berkat berupa lungsuran sesajen seperti aneka buah dan kue menambah keceriaan bila selesai sembahyang. Suasana ini begitu nikmat apalagi bersembahyang dilakukan bersama keluarga dan kerabat maupun berkelompok dengan teman-teman.

Upaya yang paling susah saat melakukan persembahyangan adalah saat mengheningkan pikiran dan konsentrasi saat proses persembahyangan dimulai. Pikiran sering kali kesana kemari membayangkan apa yang dialami atau lihat sebelum persembahyangan. Saat mengambil sikap hening kita sering terganggu dengan kondisi di sekitarnya yang kadang-kadang sangat ramai dan gaduh akibat dari banyaknya para pemedek yang rawuh tangkil dan kurang terkendali. Apalagi kondisi ini terjadi sebelum persembahyangan maka dalam mengikuti persembahyangan akan kurang mampu berkonsentrasi. Apapun yang disaksikan tadi atau dilihat dengan mata, itulah yang terbayang saat sembahyang. Begitu memejamkan mata untuk mulai berkonsentrasi munculah bayangan silih berganti terhadap apa yang telah disaksikan sebelumnya, sehingga sembahyangpun akan menjadi terganggu dan muncul perasaan yang galau dan merasa mangkel, yang pada akhirnya saat selesai mengikuti persembahyangan menjadi kurang nikmat dan kadang-kadang merasa berdosa.

Perasaan seperti itu sering kali kita alami bila persembahyangan dilakukan di Pura-pura besar yang pemedeknya tumpah ruah atau situasi di dalam pura kurang terkendali atau kurang pengaturannya saat umat melakukan persembahyangan. Mungkin karena susah untuk konsentrasi meskipun telah diupayakan semaksimal mungkin juga jarang berhasil. Sering kali berkonsentrasi dengan membayangkan simbul-simbul apa saja yang berkaitan dengan manifestasi Tuhan apakah itu Pretima, Pelinggih itu sendiri maupun gambar Dewa dan Dewi.

Namun yang membuat diri sering mangkel, kalau yang terbayang saat sembahyang bukannya simbul-simbul manifestasi Tuhan, melainkan apa yang terjadi barusan sebelum sembahyang. Bila sempat melihat wanita cantik, maka yang terbayang adalah wanita cantik itu, atau orang-orang yang kita ajak sembahyangpun sering muncul dalam pikiran saat konsentrasi, apalagi mereka masih bercakap-cakap sehingga lewat percakapan mereka gambaran wajahnya terbayang saat konsentrasi itu. Demikian pula bila ada bau makanan yang menusuk hidung, maka konsentrasi akan beralih ke makanan itu. Dan lain sebagainya kejadian di sekitarnya baik sebelum maupun saat sembahyang.
Sampai suatu ketika saya berguru di Pedepokan Seni Suci Tarian Esoterik ” Tandava Nrtya”, suatu pusat pencerahan diri yang mengutamakan laku sesuai dengan petunjuk Guru. Setelah diri kita dicerahkan dan Atman dibangkitkan, maka kita melakukan Laku untuk secara terus menerus dan berkesinambungan baik di rumah maupun secara bersama-sama dengan teman seperguruan untuk menelusuri keheningan dalam diri, sehingga diri murni atau Ruh/Atman kita muncul menjadi kesadaran. Kesadaran ini disebut Kesadaran Ruh/Atman yang berbeda dengan kesadaran Jiwa maupun kesadaran pikiran.

Semenjak itulah secara perlahan sesuatu yang tabu untuk diketahui selama ini dapat disadari makna hakikinya meskipun hanya untuk pemahaman bagi diri sendiri. Lama kelamaan muncul hasrat agar pengalaman ini dapat disampaikan kepada teman-teman dan juga melalui tulisan ini. Sekali lagi ini hanya pendapat pribadi sesuai dengan apa yang saya alami. Selanjutnya bila ada pemahaman yang berbeda atau kurang bahkan tidak setuju, saya mohon maaf, karena saya sendiri masih dalam tataran pembelajaran dan pencerahan diri. Selanjutnya saya akan uraikan pengalaman saya dalam melakukan Panca Sembah yang saya rasakan paling membahagiakan :

1. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong
Pada tahapan ini Kesadaran yang utama adalah mengosongkan diri dan tahapan ini memang sulit seperti pengalaman saya yang telah diuraikan di atas. Banyak gangguan seperti yang telah diuraikan. Setelah Pranayama, cara saya yang terasa paling mudah untuk melakukannya pada tahapan ini adalah dengan duduk hening, mata dipejamkan dan pikiran diarahkan ke diri sendiri seolah-olah kita secara terus menerus menatap diri sendiri. Dan bila muncul rasa sakit pada kaki atau kesemutan, perasaan kita jangan menolaknya demikian pula suara-suara yang kita dengar. Kita harus mampu menikmati baik rasa sakit maupun suara yang di dengar. Sekali lagi jangan ada perasaan menolak, nikmati saja sambil terus menerus menatap diri sendiri. Itu sebenarnya adalah pintu-pintu menuju kekosongan. Agar pikiran kita tidak liar maka perlu dikasi pekerjaan seperti memperhatikan nafas masuk dan ke luar dari hidung atau menyebut Aksara Suci ”OM” secara terus menerus pada titik dua jari di bawah pusar. Dengan terikatnya pikiran dengan pekerjaan tersebut maka kita terasa hening dan merasa diri kosong. Barulah kemudian Tangan diangkat di setinggi ubun-ubun sebagaimana persyaratan Sembah Puyung.

Hanya diri yang kosong mampu diisi dan beda dengan bila diri kita terasa berisi apalagi merasa penuh. Maka bila diisi kembali maka akan tumpah. Itulah makna Kosong maupun sembah Puyung
Memang ini tidak mudah dan perlu latihan yang berkesinambungan.

2. Muspa/Sembah dengan Bunga, kehadapan Sanghyang Ciwa Raditya
Sembah pada tahapan ini adalah sujud kita kepada Sanghyang Ciwa Raditya sebagai saksi agung di Bhuana Agung, bahwa kita sedang menyembah Ida Sahyang Widhi Wasa sekaligus nunas penerangan jalan menuju kepadaNya.
Bila pada tahapan Sembah Puyung kita mampu mempertahankan diri yang hening dan kosong, maka secercah cahaya akan muncul dalam diri yang kita lihat meskipun mata dalam posisi terpejam. Inilah Ida Sanghyang Ciwa Raditya di Bhuana Alit yang akan menerangi anda menuju kepadaNya.
Bila anda mampu mengalami hal ini maka anda tidak perlu mengikuti sembah dengan cara mengangkat tangan seperti biasanya pada tahapan ini, karena anda akan kembali tersadar dan kekosongan akan lenyap.

3. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi
Pada tahapan ini ditandai dengan sinar yang muncul itu semakin terang dan nampaklah sesuatu keindahan yang tak dapat diceritakan dengan kata-kata. Karena kata-kata tak cukup mampu untuk menjelaskannya kepada orang lain. Lebih baik jangan diceritakan kepada orang lain, karena disamping kita dianggap mengada-ada atau yang lainnya juga orang lain tidak akan percaya. Itu wajar karena mereka tidak mengalaminya. Kalau mereka ingin bukti sebaiknya dituntun agar mereka juga mampu mengalaminya.

Apapun yang anda lihat tergantung dari kwalitas diri anda, itulah kenyataan sebenarnya yang anda cari saat sembahyang. Bila kondisi ini tercapai biasanya dibarengi dengan tangisan, tangisan kebahagiaan yang luar biasa. Curahan kasih sayang yang sulit untuk diceritakan.
Sama halnya pada tahapan nomor 2 di atas, bila anda mampu mengalami hal ini maka anda tidak perlu mengikuti sembah dengan cara mengangkat tangan yang diisi kewangen/bunga seperti biasanya, karena anda akan kembali dikuasai kesadaran jiwa dan pikiran serta peristiwa niskala tadipun akan sirna.

4. Muspa/Sembah dengan Bunga/Kewangen kehadapan Sang Hyang Widhi dan Dewa Samudaya untuk mohon waranugraha
Pada tahapan ini ditandai dengan kesaksian akan kenyataan dan kesadaran diri murnipun terjaga. Apapun yang anda saksikan dan anda tetap dalam kesadaran diri murni (Sejati/Ruh/Atman) akan terjadi suatu dialog. Dialog yang mesra dipenuhi kasih sayang yang sangat tulus, meskipun secara sekala mata dan mulut kita dalam keadaan tertutup. Namun kita dapat melihat dan berdialog. Dialog yang dipenuhi wejangan suci, itu semuanya adalah penugrahan Hyang Maha Agung melalui segala bentuk manifestasinya.

5. Muspa/Sembah Puyung atau Kosong kembali untuk menghaturkan terima kasih atas Anugrah yang telah dilimpahkanNya.
Bila segala sesuatu yang terjadi semakin lenyap itu pertanda kita telah kembali ke alam kesadaran jiwa melintasi kekosongan sampai kita tersadar di dalam kesadaran pikiran. Ini berarti kita telah menginjak pada tahapan sembah Puyung untuk mengakhiri persembahyangan.

Demikianlah mengapa persembahyangan umat Hindu di Bali yang pada umumnya melakukan Panca Sembah saat sembahyang sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Bila mampu mengalaminya akan memperoleh kebahagiaan yang lebih dari kebahagian duniawi. Sekali lagi memang ini sulit untuk dilakukan bila kondisi di sekitar kita saat sembahyang tidak mendukung untuk mencapai keheningan. Ini juga tergantung dari kwalitas diri kita masing-masing. Bila kondisi hening tak tercapai, maka ikuti saja tahapan persembahyangan sebagaimana biasanya sebagai media latihan yang lama kelamaan bila kita tekuni serta menjaga keheningan dan kesucian bathin kebahagian itu pasti anda dapat capai.

Selanjutnya ada misteri dibalik ngayaban canang atau banten saat kita maturan. Canang atau banten yang belum diayab, secara umum belumlah dianggap maturan. Maka setiap kita ngaturan canang atau banten selalu diayab seolah-olah canang atau banten yang kita haturkan telah diterimaNya. Gerakan tangan saat ngayaban, seolah-olah kita mempersilahkan menikmati apa yang kita haturkan, atau suguhkan seperti kita menerima tamu. Dan bagi penganut keyakinan/agama lainnya kita sering menjadi barang tontonan karena mereka menganggap aneh namun nyata. Kita sering dicap pemborosan dengan membuat canang/banten setiap hari, kemudian ditaruh begitu saja dan selanjutnya menjadi sampah. Namun tak apalah karena memang mereka belum tahu maknanya.

Namun bagi kita penganut Hindu khususnya di Bali, membuat dan menghaturkan canang/ banten/sesajen sudah menjadi kewajiban dan kebiasaan keseharian. Karena memang canang/ banten/sesajen pada hakekatnya adalah simbul kata-kata yang kita tujukan kehadapan Ida Sanghyang Widi Wasa. Karena keterbatasan kita untuk berkomunikasi dengan Beliaulah kita menggunakan simbul-simbul yang kita buat dengan material dari alam.

Ibarat seorang pecinta dengan yang dicintainya, maka sang pecinta akan memberikan sekumtum kembang/bunga yang segar, harum dan indah buat kekasihnya, maka sang kekasih akan memahami arti semua itu dengan sendirinya, meskipun tak sepatah katapun diucapkannya. Bagi sang pencinta dalam hatinya berkata : ”seindah dan seharum bunga inilah cintaku kepadamu”. Demikian pula yang dicinta atau kekasihnya akan berbisik dalam hatinya akan hal yang sama. Memang cinta tidak mesti diucapkan, cinta akan lebih indah dan selalu bersemi bila dilandasi ketulusan hati, dengan bahasa hati yang terdalam. Sama halnya dengan canang/banten/sesajen yang dihiasi dengan berbagai bunga/kembang yang harum, pada hakekatnya sama maknanya dengan bunga untuk menyatakan cinta kepada sang kekasih tadi. Meskipun tak diiringi dengan kata-kata Belaiu sudah paham maksud kita.

Sedangkan ngayaban canang/banten/sesajen adalah gerakan kosmik atau gerakan atman/Ruh Kudus . Hanya atman/Ruh Kuduslah yang mampu berkomunikasi dengan Tuhan, karena Tuhan sendiri adalah sesuatu (sulit untuk diurai atau disebut dengan kata-kata manusia/bahasa bumi karena keterbatasannya) yang sifatnya gaib dan suci. Bila Atman/Ruh Kudus telah bangkit dalam diri seseorang maka munculah gerakan kosmik saat kita sedang mengosongkan diri atau sedang fokus kehadapan beliau saat kita maturan. Namun bagi orang kebanyakan yang Ruhnya belum mampu bangkit maka gerakan ngayab masih mengikuti gerakan pikiran seolah-olah kita mempersilahkan Beliau Anyukle Sari lan Amukti Sari. Pada hal kita tahu bahwa pikiran tidak akan mampu menjangkau Beliau, karena Tuhan sendiri tak terpikirkan . Hanya Ruh yang akan mampu berhubungan dengan Ruh Suci yaitu Tuhan itu sendiri. Namun demikian bila Ruh kita belum bangkit, ngayaban canang/banten seperti biasanya tidaklah salah, kembali kita harus yakin Beliau Maha Mengetahui dan Maha Mendengar. Sampai jumpa pada edisi berikutnya
Salam : Huuu............., semuanya hanya Dia.

Dalung Permai, awal Juli 2008


Yang Shri Madava Wayan Suratnya

2 komentar: